Menilik Kehidupan Masyarakat Sekitar Keraton Kesultanan Yogyakarta

Siapa sih yang gak kenal dengan Keraton Kesultanan Yogyakarta? Ya, Keraton Yogyakarta merupakan tempat kediaman Sultan yang juga menjadi destinasi pariwisata di Yogyakarta. Keraton Yogyakarta seolah menjadi destinasi wajib kalau kalian berwisata ke Yogyakarta. Tapi pernahkan kalian berkeliling di sekitar kawasan Keraton Yogyakarta dan melihat budaya masyarakat sekitar? Kali ini gue bareng tim Uncov mau ajak kalian menilik kehidupan masyarakat di sekitar Keraton Kesultanan Yogyakarta.
 

Ketidak-sengajaan yang Bermakna

 


 

Di siang hari Senin itu setelah sarapan di Pasar Beringharjo, gue dan tim Uncov melanjutkan perjalanan ke Keraton Yogyakarta. Tiba di sana sekitar pukul 10.00, ternyata kami tidak bisa masuk ke dalam lingkungan Keraton yang ditutup untuk umum setiap hari Senin (mengikuti kebijakan pemerintah dimana semua Museum Nasional tutup di Hari Senin). Alhasil rencana awal kami untuk berkunjung ke Keraton Yogyakarta pun gagal. Di sana kami bertemu dengan Pak Udin, salah seorang tour guide yang biasa mengantarkan turis untuk berkeliling area Keraton. Saat itu Pak Udin menyarankan kami untuk datang kembali keesokan hari, tapi sayangnya jadwal perjalanan kami keesokan hari tidak di daerah keraton.
 

Pak Udin pun akhirnya mengajak kami untuk berkeliling di daerah sekitar Keraton untuk melihat kegiatan masyarakat di sana. Kami pun setuju, toh tanggung juga sudah sampai di sana. Sambil berjalan Pak Udin bercerita seputar kehidupan masyarakat di sekitar Keraton yang memiliki berbagai profesi sekaligus menjadi Abdi Dalem. Abdi Dalem merupakan sebuah panggilan bagi masyarakat yang mau mengabdi dan pengikut atau pun pelayanan di lingkungan keraton baik di Keraton Kesultanan Yogyakarta maupun Keraton Kasunanan Surakarta.
 

Salah satu contohnya, Pak Udin sendiri. Ia berprofesi sebagai tour guide, sekaligus mengabdi kepada Sultan sebagai Abdi Dalem. Contoh Abdi Dalem lainnya yang dikenal banyak orang adalah alm. Mbah Maridjan. Pak Udin lanjut menjelaskan bahwa Abdi Dalem berperan penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Keraton. Menurut informasi dari Pak Udin, para Abdi Dalem bekerja dengan profesinya masing-masing selama 27 hari dalam sebulan, sementara 3 hari lainnya mengabdi untuk Keraton. 
 

Mengabdi untuk Melangsungkan Tradisi

 


 

Pak Udin mengajak kami berkunjung ke Batik Painting Art Centre, salah satu tempat usaha membatik milik Keraton yang para pekerjanya adalah Abdi Dalem. Di sana kami bertemu dengan Pak Hery yang mengelola tempat usaha lukisan batik tulis tersebut. Pak Hery kemudian menjelaskan bahwa mereka menjual lukisan yang menggunakan metode batik tulis untuk melestarikan budaya membatik. Proses pembuatannya sama dengan pembuatan batik tulis, mulai dari melukis menggunakan canting di sebuah kain polos hingga proses pencelupan warna. Unik! Sebuah tradisi dan cara membatik bisa diterjemahkan ke dalam sebuah lukisan. Satu lukisan berukuran besar bisa memakan waktu hingga 3 bulan lamanya.

 

Lukisan di Batik Painting Art Centre ini masing-masingnya unik, pasti berbeda satu dengan lainnya, karena menggunakan teknik batik tulis. Meskipun secara sekilas beberapa gambar sama, tapi dari detailnya pasti berbeda. Maka dari itu, lukisan-lukisan ini hanya dijual secara offline di tempat untuk memastikan pembeli pasti mendapatkan lukisan yang sesuai keinginan. Lukisan-lukisan ini dijual tanpa frame. Pembeli cukup membawa kain yang sudah dilukis. Untuk perawatannya juga cukup mudah, kain bisa dicuci dan dikeringkan layaknya mencuci kain batik tulis pada umumnya.
 

Setelah berkunjung ke Batik Painting Art Centre, Pak Udin mengajak kami berkeliling lagi. Selain Pak Hery yang mengelola Batik Painting Art Centre, beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar Keraton Yogyakarta pun memiliki berbagai usaha seperti berjualan baju batik, baju sablon khas Yogyakarta (Dagadu), juga berbagai oleh-oleh. Pak Udin juga mau mengajak kami untuk berkunjung ke salah satu situs di dekat Keraton, yaitu Tamansari yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian para permaisuri dan selir dari Sultan. Sayang sekali waktu kami terbatas karena harus melanjutkan perjalanan selanjutnya ke daerah Gunung Kidul. Akhirnya kami pun berpamitan dengan Pak Udin. Terima kasih ya Pak Udin sudah mengajak tim Uncov berjalan dan melihat kegiatan masyarakat di sekitar Keraton Yogyakarta, semoga bisa bertemu lagi di kesempatan selanjutnya!


Saat ini sedang bekerja serabutan, mengumpulkan uang supaya bisa membangun penghasilan dan rumah tangga. Gak susah diajak nongkrong, susahnya keluar uang pas nongkrong.




Dapatkan update artikel Uncov